Tuesday, April 21, 2009

Setang Kemudi

Komunitas trail menyumbangkan item setang ke ranah modifikasi Tanah Air. Kemudi yang biasanya digenggam dan nemplok di Special Engine (SE) itu, sekarang malah menjadi favorit. Baik untuk motor sport hingga skubek.

“Itu karena ukuran lebih lebar, jadi gagah dilihat,” kata Robin, juragan X Bike Modification yang sering modifikasi menggunakan setang jenis ini. Selain itu juga, lebih rigid karena memang dipakai untuk motocross.

Banyak juga yang menyebut setang ini dengan nama Fatbar. Apanya yang gemuk ya? Padahal Fatbar itu nama merek lho (baca boks). Batang kemudi ini sendiri sebenarnya memiliki dua model. “Model tinggi dan pendek,” kembali kata Robin.

Sebelum dipilih dan kemudian dibeli, setang ada baiknya disesuaikan dengan postur. Walau beda merek, ukuran setang biasanya sama. “Panjang 80 cm dan diameter ujung 2,2 cm,” lanjut Robin yang pengantin baru ini.

Taunya juga, lingkar besinya nggak sama dari ujung sampai tengah. Ukuran diameter tengah adalah 2,8 cm. Desain seperti ini juga menjadi salah satu alasan sering batang kemudi model ini ngetop disebut Fatbar. “Gendut di tengah,” lanjut warga Mangga Besar, Jakarta Barat ini.

Karena ukuran yang jauh melebihi setang standar, maka untuk pemasangan butuh clamp kit atau raiser. Tentunya juga dalam ukuran besar.

“Enggak harus merek luar atau sama dengan setang yang dibeli. Sekarang banyak juga raiser merek lokal,” kata pedege yang baru buka toko di Jl. Kebun Jeruk III Ujung, Kota, Jakarta Barat.

Selain ukuran umumnya, setang baplang ini juga hadir dalam berbagai warna menarik. “Jadi, memang gaya di model dan color,” bangga pria yang bisa dikontak di (021) 999-96635 ini.

Eit, hampir lupa! Selain dari SE, sekarang mulai banyak juga yang pakai setang dari ATV. “Kalau itu memang lebih tinggi. Lebih lebar, juga lebih bersudut sehingga tinggi,” tambah pria yang banyak menjual merek Star Performance ini.

FATBAR ATAU HOTBAR

Banyak yang menyebut setang seperti ini dengan nama Fatbar. Padahal sebenarnya nama tipe dari merek Renthal. Karena Renthal begitu populer, makanya banyak orang ikut menyebutnya sesuai brand itu.

Produsen lain juga mengeluarkan model seperti ini dan memberi nama berbeda. Misal Star Performance yang menyebut batang kemudi seperti itu dengan sebutan Hotbar.

Karena Fatbar sudah begitu kondang, wajar jika harga jualnya relatif mahal. Bisa sampai di atas Rp 1 juta. Sementara Hotbar, hanya Rp 500 ribu.

Beberapa produsen lokal juga mulai coba bikin desain sendiri. Mereka memberi nama dengan tetap merujuk ke Renthal, setang Fatbar.

Sumber: motorplus-online.com

Sunday, April 19, 2009

Selama konsumen tahu konsekuensinya, gonta-ganti spesifikasi aki memang nggak ada yang larang. Dalam artian, apakah aki pengganti mampu menyuplai setrum ke semua komponen listrik. Atau malah bikin kerja peranti pendukung pengisian makin berat akibat kapasitas aki tambah besar.

Ulasan di atas merupakan syarat dasar buat konsumen yang ingin beli aki baru di luar spesifikasi. “Tujuannya supaya komsumen tidak salah pilih dan terhindar dari masalah kelistrikan di kemudian hari,” jelas Ady Adrianto alias Ajo mekanik CAJ Motor.

Sebagai gambaran, kenapa ukuran aki standar di motor bebek dengan sport beda? Kalau di bebek, spesifikasi aki rata-rata 12V/3,5~5Ah, sedang di motor sport atau motor laki alias bantangan antara 12V/7~10Ah.

Ukuran ampere aki di setiap motor dipengaruhi jumlah arus yang dibutuhan. Ambil cotoh motor bebek spesifikasi aki 12V/5Ah. Dengan ukuran 5Ah, maka aki cuma mampu mensuplai arus setrum ke komponen listrik di motor nggak boleh lebih dari 60 watt.
Angka itu hasil dari perkalian 12V x 5Ah = 60 watt. Jika penggunaan lebih besar, biasanya setrum aki cepat tekor. “Kalau di motor pengapian AC, mungkin ada lampu redup saat difungsikan. Tapi buat pengapian DC, biasanya mesin sering mbrebet tanda kurang setrum,” lanjut pria yang buka bengkel di Jl. Raya Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.

Penyebab aki tekor sendiri umumnya ulah regulator rusak atau ada penambahan komponen kelistrikan di motor. Sehingga kalau spek aki ikut diturunkan, arus listrik yang dialirkan semakin besar hingga tidak sebanding dengan kapasitas aki.

Sebaliknya jika spek aki diperbesar dari aslinya. Meski kemampuan aki menyuplai arus lebih baik, namun tetap ada konsekuensinya. Pertama, kinerja sepul dan kiprok pasti tambah berat lantaran harus terus mengisi setrum ke aki yang berukuran lebih besar. Wajar kalau usia pakainya jauh lebih singkat.

“Yang lebih penting, spek aki besar harus didukung wiring yang bagus juga. Maksudnya, kualitas kabel harus diperbaiki agar tidak mudah terbakar. Juga nggak tahan panas akibat setrum yang besar pula,” wantinya.

Terakhir, lihat dimensi aki bila ingin ganti ukuran. Sebab, rata-rata aki spek tinggi bisa mempengaruhi ukuran. Makanya ganti aki bukan tidak boleh. Namun saran Ajo, pastikan apakah kepala aki dimensi besar tidak mentok ke rangka saat kena guncangan hingga sebabkan korslet.

Ingat itu!

CEK REGULATOR

Sebelum ganti aki baru, sebaiknya cek dulu regulator atau kiprok. Jika peranti yang berfungsi untuk mengisi setrum aki ini rusak, biasanya setrum aki nggak mau penuh. Atau lebih repot lagi jika kiprok tidak bisa membendung setrum gede dari sepul menuju aki. Yang jebol aki.

Kejadian aki overcharge akibat kiprok jebol banyak dialami konsumen yang ganti accu baru. “Biasanya mereka marah dan menyalahkan produsen aki. Setelah diganti aki baru pun, dipastikan akan jebol juga. Akhirnya makan korban dua aki,” jelas Bunyamin produsen aki Maxima dan Indobatery.

Untuk itu Bunyamin kasih panduan. Cek dulu kiprok. Juga kenali jika air aki kerap abis. Harus waspada, karena bisa jadi kiprok jebol dan terlalu banyak menyuplai setrum. Akhirnya panas dan air aki cepat abis dan jebol.

Sumber: motorplus-online.com

Dorong, Stasioner atau Geber

Dalam situasi terdesak, tidak punya pilihan, tentu seseorang harus mengambil risiko minimal. Di dunia bikers, situasi abnormal seperti ini sering terjadi. Misalnya jalanan banjir merupakan kondisi buruk yang harus dilalui. Dalam situasi seperti ini juga, risiko motor rusak sangat mungkin terjadi.

“Kalau punya pilihan sih, mending berputar, cari tempat yang lebih aman, tidak banjir,” ungkap Joseph Antony Tan, Kepala Training Roda Dua, PT Suzuki Indomobil Motor.

Hal sama juga diungkapkan Benny Djatiutomo, pemilik bengkel Star Motor. “Muterpun sebenarnya juga rugi. Ya.. rugi waktu dan tenaga. Tapi memaksakan diri untuk masuk ke dalam ‘kolam’, jelas lebih rugi lagi. Ada risiko kerusakan yang bakal dialami pengendara motor,” papar Benny.

Dalam situasi yang tidak bisa memilih, banjir harus diterjang, ada beberapa pilihan untuk menerobos banjir. Motor didorong, berjalan dengan kecepatan stasioner atau digas pol. Di antara tiga cara itu, mana yang paling minim risikonya.

DORONG

Baik Benny maupun Joseph memilih mendorong motor dalam keadaan mesin mati ketika masuk ke dalam banjir. “Lebih aman,” jelas keduanya. Dalam kondisi mesin mati, putaran mesin yang bisa menyedot air dari filter udara atau lubang pernafasan tidak akan terjadi. Jadi kemungkinan air nyelonong ke mesin bisa dihindari.

Tapi harus diingat, setelah melewati banjir secepatnya dicek beberapa komponen. “Lepas knalpot, pastikan air tidak ada di lubang pembuangan. Lalu segera dieringkan,” jelas Benny.

Juga tidak ketinggalan, sesegera mungkin kuras oli mesin. Buka bak kopling, dari situ akan mudah membersihkan rasio dan kopling. Gunakan bensin untuk membilas.

Menurut Joseph, perhatikan juga tipe motor yang digunakan untuk didorong. Untuk motor sport relatif tidak begitu masalah. “Untuk ketinggian 40 cm, dengan posisi mesin tegak masih tidak masalah,” jelasnya.

Beda jika motor yang didorong skubek. Posisi cover CVT yang rendah, sangat mungkin kemasukan air dari lubang pembuangan. “Air yang nyelinap ke dalam cover bisa membuat belt CVT slip,” paparnya.

JALAN STATIONER
Untuk ketinggian banjir di bawah 40 cm, menerobos dengan cara jalan masih diperbolehkan. Namun, menurut Joseph Antony, pastikan kondisi kabel kelistrikan dalam keadaan baik.

”Sehingga tidak mudah air masuk. Efeknya bisa terjadi korsleting,” jelas pria berkantor di Pulogadung, Jakarta Timur itu. Berkendara dengan mesin stasioner yakni panteng di gigi 1 genangan air tidak tinggi.

”Tetap harus diwaspadai air nyelinap di karburator. Tandanya mesin mbrebet. Parahnya kalau air masuk ke dalam ruang bakar. Efeknya water hammer, piston seperti menubruk dinding keras,” jelas Benny yang kini beralamat di Bambu Apus, Jakarta Timur.

Kalau sudah terjadi, water hammer alias palu air, bukan hanya piston saja yang kena. Seluruh komponen dalam seperti kruk-as, klep pasti mesti diganti. ”Biaya yang dikeluarkan jelas lebih mahal. Sudah pasti turun mesin,” paparnya.

Joseph menyarankan, sebelumnya pengendara harus memiliki persiapan. ”Paling sederhana, tutup knalpot dengan plastik. Filter udara harus terpasang untuk mencegah agar air tidak mudah masuk ke dalam ruang pembakaran,” papar Joseph.

DIGEBER

Perlu diingat saat mesin digeber, genangan air makin tinggi. Untuk motor tipe mesin tidur, peluang air masuk ke dalam mesin sangat besar lewat filter udara. ”Banyak motor yang mengalami turun mesin saat motor digeber,” papar Joseph.

Untuk motor tipe sport, tertolong konfigurasi mesin yang tegak. ”Belahan air yang diterjang roda cenderung menyamping. Tapi tetap saja kemungkinan air masuk maih sangat besar,” jelasnya.

Pada tipe bebek, tidak disarankan menggeber kendaraan dengan kecepatan tinggi. ”Sudah pasti, air masuk ke dalam busi atau karburator. Kalau ke busi, mesin langsung mati. Kalau ke karbu gejalanya mbrebet,” papar Joseph.

Buat skubek malah lebih berisiko. Diameter pelek yang kecil bisa jadi masalah di luar kerusakan mesin. Misalnya, kondisi jalanan menjebak. ”Motor lagi digas, tahunya ada lubang lumayan dalam yang tentunya tidak kelihatan. Pengendara bisa jatuh, atau paling tidak merusak suspensi dan pelek,” ungkap Joseph.

Masih untung lubang. Coba kalau di sekitar lokasi banjir ada sungai atau got besar yang mengalir deras. Kalau sampai nyemplung beneran, motor bias-bisa jatuh dan terseret arus.

Sumber: motorplus-online.com

Kunci Kontak Harus OFF

Sejak akhir 2008, hujan bahkan banjir datang tidak permisi. Tidak hanya dipicu hujan deras, datangnya rob atau air laut ke daratan di beberapa wilayah pesisir pantai juga jadi penyebab. Itu jelas membuat beberapa jalanan jadi tergenang air.

Masalahnya, gimana dengan motor yang tidak selamat dan terendam. Bodi motor masuk air hingga setang. Dipastikan air masuk ke dalam mesin dan kabel kelistrikan. Jika seperti itu, apakah motor bisa langsung dihidupkan? Seperti mengaktifkan kunci kotak, sebagai syarat menghidupkan mesin.

“Jika cuma lewat banjir, pengecekan sederhana tetap perlu dilakukan. Tapi kalau sampai terendam lebih dari 1 hari, jangan coba langsung dinyalakan. Takut ada komponen rusak parah,” jelas Verry Jarwo, mekanik Corner di Jl. Pondok Betung, No. 66A, Bintaro, Jakarta Selatan.

Dipertegas Verry, terendam banjir lama haram hukumnya coba meng-ON-kan kunci kontak. Takutnya terjadi korslet alias hubungan arus pendek atau silinder mesin alami water hammer. Makanya tetap sabar dan segera lakukan tindakan preventif, seperti membersihkan motor.

Saat dibersihkan jangan tunggu motor kena panas dulu. Dipastikan kotoran bakal menempel kuat. Makanya begitu banjir reda, langsung bilas motor pakai dibilas air bersih. “Kalo perlu, buka semua cover bodi,” imbuhnya.

Lanjut cek tutup tangki bensin untuk mengintip bagian dalamnya. Kalau penuh air, lepas slang bensin yang menuju karbu. Biarkan air ngucur, bilas dan kocok isi tangki menggunakan solar. Lakukan sampai tangki bebas dari air.

Berikutnya cek komponen pengapian dan kelistrikan. Dimulai melepas soket kabel dan mengecek air yang mengendap di CDI, kiprok, relay starter, motor starter, aki hingga gulungan sepul. Gunakan bantuan angin kompresor untuk meniup air yang mengendap. Dikhawatirkan air bikin korslet komponen kelistrikan dan pengapian.

“Meski kelistrikan beres, masih haram menyentuh kunci kontak. Baiknya buka dulu busi untuk dibersihkan. Sekalian buang air yang mengendap di ruang silinder,” timpal Chepy, mekanik RMK Cute di Jl. Kebalen 3, Poncol, Jakarta Selatan. Chepy sering dapat order motor terendam banjir.

Kalo busi udah dibuka, mesin boleh dislah guna membuang air. Sebab dari lubang busi akan muncrat air. tapi kalau busi dipasang dan mesin dislah, dikhawatirkan klep bengkok atau piston bolong lantaran mengkompresi air.

Sekalian buka juga knalpot dari dudukan. Tuang dan buang air yang mengendap di dalam sampai bersih dan jangan ada air yang tersisa di mesin. Disusul bongkar karburator dan boks filter udara untuk kemudian dibersihkan.

Tak kalah penting, buang oli campur air yang mengendap lewat lubang pembuangan. Untuk mengurasnya, gunakan solar sebanyak 1 liter sambil memutar komponen mesin dengan cara dislah berulang kali.

Pembilasan menggunakan solar harus dilakukan sampai tiga kali. Hidupkan mesin hingga 3 menit kemudian buang lagi solarnya. “Pasti warnanya putih seperti susu. Itu tanda di dalam ruang mesin masih mengandung air,” lanjut Chepy.

Setelah tiga kali bilas, baru deh diisi oli. Tapi, kalau sudah dipakai beberapa kilometer, bagusnya oli segera ganti biar bersih.

BERSIHKAN BATOK LAMPU

Mumpung motor masih basah, harusnya buruan bongkar batok lampu. Itu agar kotoran tidak menempel kuat di reflektor. Gunakan tisu halus untuk mengelap reflektor. Jangan menggunakan tisu kasar yang berakibat baret dan lampu tidak terang.

AIR DI RUMAH CVT

Jika air masuk CVT, cukup dibersihkan. Risiko bertambah jika tembus hingga ke mesin. “Wajib ganti oli gardan juga pelumas mesin karena bisa terjadi karat,” jelas Muhamad Zaki dari Zaki Motor, mekanik spesialis skubek di Ciledug, Tangerang

Lama terendam penuh, kemungkinan paling parah cepat mengundang karat. Seperti di laher kruk-as. Kalau ada gejala seret pada laher, berarti air dan kotoran terbukti menyelinap. “Nggak perlu diganti jika masih bisa dibersihkan,” papar mekanik yang hanya makan roti dan kentang setiap hari itu.

Sumber: motorplus-online.com

Oils & Fluids

Shoutbox


ShoutMix chat widget