Sunday, January 25, 2009

First Ride New Honda Tiger Revo

Semua Demi Lampu!

Menebus rasa penasaran, New Tiger Revo dibawa keliling kota! Termasuk juga, ke pinggiran kota yang biasanya minim penerangan! Malah, lebih mantap lagi, perjalanan dilakukan di malam hari! Begitunya, ada dua pengetesan bisa dilakukan bersamaan. Ergonomi dan penerangan.

Mantap! Itu yang dirasakan kala nyemplak Tiger Baru ini. Tampilan di luar kebiasaan, nggak sedikit orang bertanya ini motor apa! Itu ketika mereka melihat sosok Tiger baru dari depan. Yup, banyak yang heran sama tampilan dua mika lampu beda bentuk ini.
Deru mesin khas Tiger, memecah kebisuan malam! Dengan konsep asimetris, tidak membuat pengelihatan di depan berkurang. Kondisi jalan kurang cahaya, tetap benderang dengan sinar fokus. Baik itu dari mika lampu dekat yang berbentuk bulat atau lampu jauh dari mika persegi.
Meski sudut lebar, penyebaran cahaya tidak selebar lampu Tiger lama. Tapi juga tidak menghalangi pengelihatan. Karena di Tiger baru ini, sudut cahaya bisa lebih tinggi ketimbang pendahulunya. Dengan lampu halogen yang diaplikasi, jarak terjauh bisa dipantau sempurna.

Lebih mantap lagi, hadirnya mika lampu jauh yang beda reflektor memungkinkan dua penggunaan lampu berbeda cahaya. Ya! Buat lampu dalam kota, gunakan lampu dekat yang memendar warna kuning. Sedang buat pinggiran kota, bisa pakai lampu jauh yang lebih putih. Itu karena di mika ada filamen biru untuk menghasilkan cahaya putih tadi.

Kemudahan memantau jalan, juga dirasakan lewat spidometer. Konsep asimetris yang diusung panel indikator kecepatan dan putaran mesin ini, memudahkan pengendara membedakan mana panel buat kecepatan dan rpm. Pastinya, panel rpm punya kelir silver di sekeliling panel.
Dan, di situ juga ada indikator bensin dan lampu jauh juga netral. Pokoke, konsep yang tak biasa ini justru membantu pengendara jadi lebih mudah membedakan setiap perubahan. Termasuk juga pengendara lawan, ketika diberi isyarat lampu jauh (beam).

Kedua mika lampu di Tiger ini bakal menyala jika dalam kondisi lampu dekat juga ditekan tombol lampu beam. So, pengendara di depan tahu kalau dirinya diberi isyarat. He..he..he...

Kelar keliling, barulah terasa! Ergonomi nggak ada ubahnya Tiger Revo lama. Tetap mengusung sport turing atawa sport cruiser. Setang yang cukup tinggi memudahkan kendali dan tak cepat membuat lelah pengendara.

ERGONOMI DAN PERBANDINGAN CAHAYA

MOTOR Plus juga coba bandingkan cahaya yang dihasilkan dengan Tiger228new-tiger-gt-4.jpg Revo lama. Terutama soal riding position. Setelah diukur Tiger Revo baru dengan sebelumnya nggak ada perbedaan. Lebar setang sama-sama 78 cm dan jarak setang dari tanah juga 103 cm. Jarak dari ujung setang ke jok 65 cm.

Namun cahaya lampu yang dihasilkan keduanya berbeda. Perbedaannya ada pada fokus cahaya ke dinding. Sama-sama standar, diukur dari jarak 5,56 meter, fokus cahaya Tiger Revo lama lebih pendek dibanding New Tiger Revo. Begitu juga cahaya lampu jauh. New Tiger Revo lebih tinggi dan fokus dibanding Revo lama. Sinar Tiger Revo lama pendek dengan fokus cahaya melebar.

KONSEP MESIN BALANCE

Banyak yang bertanya, kenapa mesin Honda New Tiger Revo masih 196,6 cc (200 cc) seperti Tiger lama. “Karena dirancang dengan memikirkan balance atau keseimbangan,” jelas Miki Yamamoto, President Director, PT Astra Honda Motor (AHM).

Makna balance sangat luas dan dalam. “Balance antara permintaan pasar dan harga. Balance antara dipakai harian di kepadatan lalu lintas dan turing. Juga balance antara tenaga yang dihasilkan dengan ramah lingkungan,” jelas Miki Yamamoto soal mesin bertenaga 16,7 PS/8.500 rpm (setara 16,5 dk/ 8.500 rpm) ini.

ULTIMATE MALE BIKE

Motor yang punya nama lengkap New Honda Tiger Revolusioner Cruiser ini dijuluki juga sebagai The Ultimate Male Bike. Punya slogan ‘Legendary Ride New Spirit’. Mengaplikasi konsep desain inovatif disadur dari moge Eropa yang merupakan trendsetter dunia.
Secara filsafat mengandung makna banyak. Konsep Ultimate Male Bike ditampilkan dalam tiga wujud. Pertama, desain bergaya Eropa. Bisa dilihat dari fitur asimetris lampu depan. Visor lebih aerodinamis, mascular shroud (airscoop yang nempel di tangki) lebih ramping, panel asimetris sporty dan desain bodi mengikuti tarikan garis lampu.

Kedua, fitur berkelas yang membanggakan (pride feature). Yang baru bisa dilihat pada sprocket chain stopper. Komponen pengaman berupa pelat penahan rantai jika lepas agar tetap berada di tempatnya. Lainnya bisa lihat lampu belakang dengan LED 6 titik.

Ketiga, sensasi berkendara melegenda atau legendary ride. Masih menggunakan mesin lama bertenaga tapi lebih ramah lingkungan karena sudah memenuhi Euro 2. Berkat adanya Scondary Air Supply System (SASS).

Sumber:
http://www.motorplus-online.com
Penulis/Foto : Niko, Aong/GT

Pertamax Vs Premium

Pilih Sesuai Kompresi

Harga Pertamax dan Pertamax Plus melangit. Bagaimana pengguna motor Pertamax. Soalnya, sebelum kenaikan ini banyak lho pengendara pakai Pertamax. Perlu nggak ya... ‘turun derajat’ nenggak Premium? Apa sih kelebihan dan kekurangannya?

Turun pangkat pakai Premium, tenaga pasti berkurang. Wajar, angka oktan keduanya beda. Pertamax dipatok 92-95. Sedang Premium di angka 82. Angka oktan menyatakan kandungan molekul iso oktan di bensin. Molekul ini yang menahan terjadinya ngelitik atau detonasi. Sehingga makin tinggi oktan, kuat terhadap kompresi tinggi.

“Kompresi berbanding lurus dengan angka oktan. Kompresi wajib diimbangi oktan tinggi,” jelas Colin Latung, konsultan perminyakan dari URS Indonesia. Kesesuaian angka oktan dengan kompresi akan memperkecil kemungkinan terjadi gejala nggelitik (lihat tabel).

“Kalau tetap memaksakan motor dengan kompresi tinggi menggunakan oktan rendah, piston akan jebol. Biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar,” jelas alumnus Lancaster University, Inggris ini.

Artinya, mengubah penggunaan Premium tergantung kompresi motor. Dalam kondisi estede, lihat saja spesifikasi teknis kendaraan yang dibikin pabrikan. Motor 4-tak lokal umumnya punya kompresi kisaran antara 9:1 sampai 9,3:1. Bahkan, motor 4-tak impor seperti Suzuki Satria F150 berkompresi 10,2:1.

“Kalau ingin tidak mengalami detonasi, turunkan kompresi. Ganjal head silinder dengan paking yang lebih tebal,” tambah pria beralamat di Jl. Dr. Kusumaatmaja, Jakarta Selatan.

Konsekuensinya, tenaga motor akan melorot. Menurut Colin, tidak masalah. “Ini untuk penggunaan harian bukan balap,” tambahnya.

Tapi, bagaimana dengan mengoplos aditif octane booster. “Penambahan itu tidak signifikan. Sebab, kandungan kimia octane seperti Metil Cyclo Pentan Dienyl Manganis Tricarbonil (MMT) tidak akan besar mendongkrak angka oktan,” ungkap Colin.

Bagaimana dengan motor 2-tak. Umumnya, perbandingan kompresi lebih rendah. Jadi, pindah pemakaian Pertamax ke Premium nggak masalah. Kebutuhan motor 2-tak terhadap kriteria bahan bakar dianjurkan menggunakan Premium.

Misal, kompresi Kawasaki Ninja-RR 7,2:1. Data Premium beroktan 82-92. “Cukup menyuplai kebutuhan motor berkompresi 7:1-9:1,” jelas Freddyanto Basuki, assistant manager service division, PT Kawasaki Motor Indonesia.

Memang, penggunaan Premium perlu diwaspadai. Soalnya, bahan bakar itu belum bebas timbel (luar Jabotabek).


OKTAN INDONESIA LEBIH RENDAH

Angka oktan bensin yang beredar di Indonesia menurut Colin Latung lebih rendah dibanding dengan sejenis di negara lain. Sebab, kita menganut Research Octane Number (RON). Sedangkan di negara lain, misal, Malaysia menganut Pump Octane Number (POM). “Angka POM didapat dari penjumlahan RON dan MON (Motor Octane Number). Hasilnya dibagi dua,” jelas Colin.

Dengan demikian, kalau angka RON Pertamax dikonversikan ke POM sudah pasti angkanya turun. “Jadi kualitas bahan bakar kita memang tidak baik,” tambah Colin.

Kurtubi, pengamat bahan bakar yang juga bekerja di PT Pertamina ngasih solusi. Kompetisi penyuplai bahan bakar minyak harus dibuka. “Pemerintah harus membuka keran pemain baru. Di sisi lain, rakyat harus tetap dilindungi. Harga tidak diserahkan ke pasar, tapi ditentukan oleh pemerintah,” jelas Staf Pengajar Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonsia ini.


TES PREMIUM DAN PERTAMAX

Rasio kompresi motor, sangat menentukan dalam pemilihan bahan bakar. Em-Plus coba ngetes motor kompresi tinggi diberi perlakuan beda. Seperti Suzuki Satria F150 kompresinya 10,2 : 1. Pertama tes diisi Pertamax. Kemudian digeber keliling Jakarta pas jam macet. Dari pukul 15:50-16:30.

Kondisi berboncengan. Pengendara 70 kg dan boncenger 60 kg. Hasilnya mencapai jarak tempuh 64 km. Menghabiskan Pertamax 2.100 cc, atau 2 liter lebih 100 cc. Berarti bisa dicari pemakaian BBM-nya. Sekitar 30,5 km/liter.

Perlakuan kedua diisi Premium. Tentu setelah tangki dikuras. Dites sendirian alias tanpa boncenger. Berat pengendara 65 kg. Dites di Jakarta sekitar jam 10 pagi

Kesimpulanya, Pertamax lebih irit meski dengan beban berat. Sebab tidak ada detonasi dan menghasilkan tenaga gede. Beda dengan pakai Premium. Gas harus dipelintir abis mulu. Sehingga boros.

Tabel Perbandingan Angka Oktan dan Kompresi

Pertamax Plus..........95......10:1 - 11:1
Pertamax................92.......9:1 - 10:1
Premium..................82......7:1 - 9:1
Sumber:
http://www.honda-tiger.or.id
http://www.motorplus-online.com

Sunday, January 18, 2009

Deteksi Klep Bocor Dari Busi

OTOMOTIFNET - Pemicu utama busi cepat mati bisa karena bensin kelewat boros atau akibat overheat lantaran minim gas bakar. Padahal karburator sudah diseting sedemikian rupa, bahkan hingga ke posisi standar, toh hasilnya tetap nihil dan busi tetap cepat minta diganti.


Busi warna hitam tanda klep in bocor

Jika alami itu, penyebabnya tak lain terjadi kebocoran di seputar bibir payung klep masuk atau buang. Sehingga campuran bensin dengan udara di ruang bakar komposisinya tidak ideal, atau justru malah terbuang keluar.

“Pada akhirnya busi juga yang diserang. Itu karena elektroda busi sulit memantik gas bakar. Juga kerap kena impact ketika terjadi kompresi. Alhasil, motor seperti kehilangan tenaga karena kompresi bocor,” jelas Maman Sugiman alias Boim kepala instruktur kursus mekanik HMTC (Hartomo Mechanical Training Centre) se-Indonesia.

Selain hilang tenaga, kondisi klep masuk dan buang bocor biasanya juga bikin motor sulit hidup. Dan kalau pun mau hidup, terkadang karbu sulit diseting normal juga kerap timbul suara ledakan di moncong knalpot.
Analisis Boim, busi mati akibat klep in bocor lantaran ada gas bakar kembali tertekan keluar ke arah moncong karbu di awal starter. Ujung-ujungnya, gas bakar yang tidak sempat terbakar justru membasahi busi, payung klep dan komponen sekitar. Nah, karena bensin banjir motor pun makin sulit dinyalakan.

Sebaliknya jika terjadi bocor di klep out. Rembesnya kompresi menyebabkan suhu panas mesin naik hingga ke tingkat overheat. Itu karena perbandingan gas bakar yang sebelumnya ideal, ketika bocor kompresi justru keluar ke knalpot. Kerja piston pun semakin berat.

“Mesin bukan cuma kelewat panas. Kalau klep out bocor biasanya dari knalpot suka timbul ledakan. Soalnya, gas bakar mentah di perut knalpot ikut terbakar saat terjadi ledakan kompresi,” jelas Boim dari kantornya di Jl. Raya Tole Iskandar, No. 9, Simpangan-Depok.

Adapun ciri-ciri yang mudah dikenali bila terjadi klep bocor, menurutnya bisa dilihat dari dua hal. Jika klep in yang bocor, warna elektroda busi cenderung hitam basah dan bau bensin. Meskipun karbu sudah diakali dengan setingan spuyer irit.

Lain hal jika klep out yang rembes. Elektroda busi tampak kering dan berwarna putih. Dan kalau mesin lagi nyala panasnya tinggi. Persis seperti setingan celah klep terlalu renggang. Paham..?

Diskir Manual

Untuk memaksimalkan kerja payung klep agar tidak bocor kompresi, komponen satu ini mesti diskir ulang. Atau istilahnya dibikin dudukan alur baru agar payung dan siting klep nggak rembes waktu gas bakar dipampatkan.


Diskir manual bikin alur makin rapat

Saran Boim yang kelahiran Cirebon, Jawa Barat itu, ketika lakukan skir ulang baiknya dikerjakan pakai tangan dan tidak pakai alat macam bor. Soalnya, hasil kikisan skir pada payung dengan siting klep alurnya jauh lebih rata.

“Buat siting dan payung klep lama bisa langsung pakai amril halus dan digosok selama 5 menit. Tapi kalau keduanya baru, baiknya gunakan dulu pasta amril kasar sebelum yang halus di waktu yang sama,” wanti Boim agar amril didukung pelumas supaya hasil gesekan rata.

Tuesday, January 6, 2009

Motor Boros? Cek Warna Busi

Meski harga Premium diturunkan, toh harga Rp 5.000 per liter masih tergolong tinggi. Apalagi kalau ditambah proses pembakaran mesin tidak sempurna, ujung-ujungnya motor malah rakus bensin. Kalau sudah begitu, pengeluaran isi kantong pun ikutan bertambah bukan?

Nah, kalau akhir-akhir ini motor kamu terasa boros, ada baiknya curiga kondisi pembakaran yang kurang sempurna. Bagaimana cara ngeceknya?

Ternyata caranya cukup mudah kok. Hanya dengan melihat warna elektroda busi. Karena saat terjadi pembakaran, elektroda busi berada di dalam ruang bakar. Caranya tentu harus melepas busi terlebih dahulu. Lalu perhatikan warna elektroda atau mulut busi.


Hitam kering, tanda boros bahan bakar

“Bila warnanya hitam kering atau berjelaga pertanda pembakaran tidak sempurna. Campuran pembakaran terlalu gemuk atau kaya. Warna hitam disebabkan bensin tidak terbakar habis sehingga menempel pada mulut busi,” buka Udin, kepala mekanik AHASS Clara Motor di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

“Ada dua penyebab. Bisa disebabkan settingan bensin di karburator dan kerenggangan klep tidak tepat atau pengapian yang bermasalah,” lanjut Coki dari JP Racing. Misal setelan angin terlalu nutup, spuyer aus atau kegedean, bahkan filter udara tersumbat juga bisa menyebabkan pembakaran terlalu kaya.

Begitu juga dengan setelan klep yang terlalu renggang. Bensin yang masuk ke ruang bakar terlalu banyak sehingga tidak bisa terbakar habis. Solusinya motor harus disetting ulang. “Biasanya bila sudah terlalu lama tidak di service, settingan motor akan berubah dan tidak ekonomis lagi,” lanjut Coki yang bengkelnya berada di kawasan Bintaro ini.


Kecoklatan, pembakaran sempurna; Putih, tandanya terlalu kering

Namun bila pengapian yang bermasalah, busi jadi perhatian pertama. Diantara begitu banyak part pengapian, umur busi yang paling pendek. “Biasanya umurnya antara 6000 sampai 7000 km tergantung pemakaian. Lebih dari itu performanya akan turun dan pastinya pembakaran jadi kurang sempurna,” jelas Udin.

Lantas seperti apa warna busi yang pembakarannya sempurna? “Warna busi akan terlihat kecoklatan,” tutup Coki. Namun jangan kelewat irit. Kalau terlalu irit warna busi jadi putih dan mesin akan cenderung lebih panas. Sumber Otomotifnet

Oils & Fluids

Shoutbox


ShoutMix chat widget